TPA Sampah Puuwatu Kota Kendari: Memanen Energi Hasil Pengolahan Sampah PDF Print E-mail

Sampah menjadi masalah utama kota-kota besar di Indonesia. Tapi tidak untuk wilayah Kendari, Sulawesi Tenggara. Jika kita mendatangi TPA sampah Puuwatu, maka tidak terlihat tumpukan sampah dan bau menyengat seperti yang terjadi di berbagai tempat pembuangan sampah lainnya di Indonesia. Kita tidak akan melihat ‘horor’ lautan sampah dan lalat-lalat yang beterbangan. Malah yang terlihat oleh kita adalah pemandangan rerumputan yang hijau dan bunga-bunga di taman yang ada di sekitarnya.

Persoalan pengelolaan sampah menjadi salah satu prioritas Wali Kota Kendari Dr. Ir. H. Asrun, M.Eng.Sc. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kendari 2015, jumlah penduduk Kota Kendari mencapai 335.899 jiwa dengan volume sampah mencapai 763.326 m3 per hari. Pemkot Kendari pun berhasil mengelola limbah sampah menjadi gas metana yang telah dimanfaatkan oleh 200 KK untuk keperluan listrik dan memasak. Inovasi tersebut membuat Pemkot Kendari terpilih sebagai The Most Inspiring Penghargaan Energi 2015.

 

“Pemkot Kendari telah mengolah sampah menjadi gas metana sejak 2010 hingga sekarang. Langkah inovasi ini bermula dari pengelolaan tempat pengelolaan akhir (TPA) sampah dengan pola open dumping dinilai tidak ramah lingkungan,” kata Asrun. Lebih lanjut ditambahkan oleh wali kota penerima Adipura Kencana ini, bahwa tidak seperti kota-kota lainnya, TPA sampah Puuwatu ini berada di dalam Kota Kendari itu sendiri. Jadi tidak ada masalah dalam penanganan dan pengelolaan sampah dengan kota atau kabupaten sekitarnya.

Sistem open dumping atau menumpuk sampah tanpa pemrosesan ini dilakukan sejak terbangunnya TPA sampah tahun 2002 hingga berlangsung sampai tahun 2010. Dimulai tahun 2008, Pemkot Kendari pun mulai mengalihkan pengolahan sampah dengan sistem lahan uruk kendali atau controlled sanitary landfill. Dengan menggunakan lahan seluas ± 2 Ha dari total 18 Ha lahan TPA yang ada, sampah organik  ± 150 ton yang ‘dihasilkan’ dari masyarakat Kota Kendari, ditimbun dan ditutup secara periodik selama tiga hari sekali dengan ketebalan tanah antara 15 – 20 sentimeter.  Tanah yang diambil adalah tanah dari area perbukitan sekitarnya.

Di beberapa titik gundukan, berdiri belasan pucuk pipa paralon berdiameter 15 sentimeter tersebar. Pada bagian pangkal bawah tersambung paralon berdiameter 5 sentimeter. Arahnya memanjang seperti pipa air PDAM. Gas metana yang dihasilkan dari gundukan sampah organik tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil.

Gas metana ini kemudian dialirkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat di Kawasan Perkampungan Mandiri Energi, baik untuk memasak (pengganti Minyak tanah/LPG) maupun penerangan (listrik). Yang menarik, Kampung Mandiri Energi ini sengaja dibangun oleh Pemkot Kendari untuk para pemulung dan karyawan pengelola TPA sampah.

 

 

“Saya berinisiatif membangunkan untuk mereka kawasan mandiri energi ini. Dulu mereka tinggal di rumah-rumah kardus, sekarang tinggal di kawasan yang layak. Kita aliri listrik, dan gas metana untuk kompor memasak mereka. Kompornya pun kita buat sendiri, tidak seperti yang biasa dijual,” ungkap Asrun.

Listrik yang dihasilkan juga dimanfaatkan untuk keperluan listrik TPA itu sendiri. Dari TPA sampah Puuwatu ini, dapat dihasilkan listrik sebesar 68 kWh dari total 5 unit produksi listrik terpasang.

“Yang menjadi tantangan dalam pengembangan energi gas tersebut adalah teknologi untuk pemadatan atau ekstraksi gas metana sehingga mudah untuk dimasukkan dalam tabung dan teknologi lain agar pemanfaatan energi gas metana dapat lebih efektif dan efisien,” demikian ditambahkan oleh Asrun.

Manfaat lain dari pengelolaan TPA sampah sistem lahan uruk kendali adalah terwujudnya benefit lingkungan. Saat gas metana yang dihasilkan dalam proses pengolahan sampah di TPA telah dimanfaatkan, gas tidak lepas ke atmosfer untuk merusak lapisan ozon sehingga terjadi pemanasan global.

Selain berfungsi sebagai tempat pengelolaan sampah akhir, Pemkot Kendari juga menjadikan TPA sampah Puuwatu sebagai tujuan wisata dengan telah dibangunnya gazebo, taman, dan medan off-road. Pengembangan fasilitas wisata lainnya, seperti flying fox juga telah dianggarkan pada tahun 2016 ini. (MF)